Friday, 25 April 2014

KENALLAH, MAKA KAU SAYANG


Tak kenal maka tak sayang

 Figure 1. Koordinasi Lintas Sektor


Terlibat turun tangan dalam sebuah gerakan grass root, Pencerah Nusantara, menjadi latar belakang kehadiran kami di Bumi Sikerei ini. Bumi dengan sejuta pulau. Berada di halaman terdepan Indonesia membuat kami semakin mencintai negeri ini. Perkenalkan, inilah kami para “SAHABAT MENTAWAI”

dr. Gustin F. Muhayani
 Figure 2 Investigasi Gizi Buruk
Lahir pada 16 Agustus 1988. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.

Ns. Umi Hani, S.Kep
Figure 3 Bekerja dengan Logika Langit
Lahir di Pemalang, 16 November 1988. Merupakan alumni dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Afrieni Melti, Amd.Keb
Figure 4. Ayo ke Posyandu dan Imunisasi
Lahir di Jakarta, 28 Mei 1990 merupakan alumni AKBID RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Sri Wahyuni, SKM
Figure 5. Ayo Cuci Tangan Pakai Sabun
Lahir di Makassar, 16 Desember 1987 merupakan alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Univesitas Hassanudin Makassar.

Ade Pratama, SKM
Figure 6 Sehat itu Mahal, Edisi Penyuluhan
Lahir di Buntok (kami pun baru mengenal Buntok setelah bertemu Ade), 27 Januari 1991 merupakan alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat.

Datang dari berbagai penjuru negeri, berkumpul menyatukan semangat dan mengambil peran untuk Mentawai yang lebih baik bersama masyarakat di Bumi Sikerei ini. Kami berlima datang kesini dengan keinginan yang berbeda, namun ada semagat yang sama untuk Indonesia yang lebih baik. Kami tak meminta perubahan itu sekarang, kami hanya ingin ikut mengambil peran dalam perubahan yang kelak akan terjadi itu.

“Insanity, doing the same thing over and over again and expecting different result” Albert Einsten



REFLEKSI



“Those things that hurt, instruct”-“Hal-hal yang melukai, mengajar” – Benjamin Franklin

Enam bulan sudah lima pasang kaki menapak tanah Sikakap. Semakin banyak yang menjadi pembelajaran dalam episode kami sebagai Pencerah Nusantara. Enam bulan lagi yang tersisa. Satu per satu aksi nyata telah coba kami mulai. Aksi  yang menguji kelapangan hati kami untuk tetap menundukkan wajah, malu atas masih sedikitnya momentum yang kami buat dibanding banyaknya peluang yang kami hadapi.
Satu demi satu masalah tampak terbuka lebih jelas di depan mata kami pun menguji kami untuk tidak lantas menyalahkan situasi melainkan berpikir untuk sebuah aksi nyata demi sebuah kata PERUBAHAN. Kondisi mengajarkan kami untuk berbuat tanpa merasa menjadi pihak paling benar. Kondisi yang menuntut kami untuk berpikir tanpa merasa menjadi sisi yang paling tahu segalanya.
Sebagai warga pendatang, adalah tantangan yang kami sadar untuk kami maklumi atas segala adat, kebiasaan, budaya, keyakinan, dan berbagai pola pikir masyarakat sebagai satu kesatuan bola salju atas berbagai permasalahan yang nyata disini.
Enam bulan, cukup membuat kami malu. Malu atas berbagai hal yang kami sebut sebagai masalah  saat awal penempatan. Malu atas sedikit rasa jijik yang muncul saat melihat anak berbadan kecil, berambut pirang bukan karena gen yang dibawanya, tapi mungkin karena sengatan  matahari, kulit kehitaman tampak bersisik dan belepotan kotor tanah liat, berjalan tanpa sandal, memikul keranjang di punggung kecilnya, menatap nanar kami seperti meminta belas kami dalam tawa mereka. Malu saat dulu kami mengatakan diri kami sebagai pecinta anak-anak, tapi merasa risih untuk menyentuh mereka. Dan hingga enam bulan ini, kami belum mampu mengubah  pola hidup mereka dikala mereka seharian tanpa ayah ibu karena bekerja di ladang. Kami pun  tak mampu mengatakan mereka berpola hidup salah.
Enam bulan yang membuat kami malu atas  masih tersianya seorang anak berusia 2 tahun bernama Rusti yang masih belum mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana seharusnya, “hanya” karena sikap orang tua yang “pasrah” dengan kondisi jauh dari semestinya.
Enam bulan yang membuat kami sadar pula, bahwa kami hanya ingin membuka mata masyarakat di tanah rantau ini, memperkenalkan dunia pada mereka, memperlihatkan keindahan dunia mereka jika sama-sama menjaganya. Memantik api semangat untuk orang-orang yang memang layak menjadi perpanjagan tangan Negara untuk mempertemukan peluang dan momentum untuk sebuah perubahan nyata menjadi masyarakat yang lebih sadar kesehatan.
Enam bula pula yang menjadikan lima hati semakin mengenal, semakin meminta untuk saling memahami kegilaan masing-masing. Ya. Menyadari sebagai orang-orang gila yang hadir untuk membaca situasi, mencoba menggambarkan dalam kanvas keindahan, kemudian menatanya menjadi satu  ruang dalam kehidupan yang lebih tertata. Orang-orang gila yang meninggalkan zona nyaman untuk sebuah kondisi yang menuntut kami untuk membaca saat berjalan, menulis saat menyusur sungai, melukis saat menyelami lautan.
Kami mulai ‘biasa’ dengan jalan tanpa aspal, menembus lautan 12 jam, berjalan di medan terjal bahkan  harus menjadi “biasa” pula bagi kami  saat setiap kegiatan posyandu bulanan puskesmas yang kami ikuti, tak jarang menemui bayi-bayi yang hampir kehilangan haknya untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana semestinya, bukan sebagaimana biasanya dalam persepsi orang tua mereka. Tak jarang pula kami temui, anak-anak balita yang mesti mengikuti “keegoisan” orang tua mereka, kesibukan berladang, rutinitas kehidupan dan penghidupan, serta realita pola asuh yang hanya bisa kami tatap, yang sedikit banyak mulai menjadikan kami gerah. Gerah untuk “sekedar” memberi penyuluhan bayi sehat, penyuluhan makanan sehat untuk anak berdasar sumber daya local, sekedar “memohon” kepada orang tua untuk memeriksakan lebih lanjut anaknya yang gizi buruk atau bahkan anak-anak dengan Development Delay Syndrome yang harus dijudge oleh orang tua mereka sebagai hal “biasa” pun jika kematian menjadi akhir cerita untuk mereka. Berkali-kali menjelaskan, memohon, dan menawarkan, pun berkali-kali tak diindahkan untuk dikabulkan. Sebatas itu pula ruang gerak kami untuk menyentuh mereka..  Namun,  “biasa” ini belum cukup menjadikan kami terbiasa dengan segala kondisi dan kinerja rekan sasaran. “Biasa” yang belum cukup membiasakan kami untuk bertindak “memodifikasi” arus,  bukan mengikuti maupun melawan arus yang kami temui.
Kami sadar betul, bahwa meski kami bisa “memperbaiki” segala keadaan dengan kemampuan kami, namun bukan itu yang kami inginkan. Keterlibatan masyarakat dalam setiap permasalahan yang ditemui, kepedulian lintas sector dalam setiap kendala yang dihadapi dalam mencapai komunitas yang sejahtera, serta berbagai tahap pemberdayaan masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat, adalah sebuah keniscayaan bagi kami, selama kami bertahan untuk mengupayakan pengorganisasian dua arah, ring 1-Puskesmas, dan ring 2-masyarakat. Doakan negeri ini agar lebih banyak yang mau #turuntangan.

Monday, 21 April 2014

TUNJUKKAN BAKTIMU, MULAI AKSIMU





Burung Kecil Tersesat at Tanjung Benuang
20 Oktober 2013. Seperti dua anak burung yang kami temukan di Tanjung Benuang, satu pulau kecil nan indah di Kep. Mentawai, saat perpisahan dengan PN1, kami tersadar bahwa kami harus mulai memasuki “hutan” ini sendiri, tanpa saudara-saudara PN1 sebagai penunjuk jalan. Hari ke 11 kami menginjakkan bumi Mentawai, banyak yang kami peroleh, banyak yang kami temui, banyak yang kami kenal, meski masih banyak pula yang belum kami tahu, yang harus kami gali, harus kami cari tahu, dan harus kami sentuh. Sosial, budaya, agama, perekonomian, dan pastinya kesehatan, akan menjadi makanan harian yang harus kami telan seluruhnya sedalam-dalamnya.
Kami sadar, kami “hanya” pendatang, yang tak memiliki hak untuk “mengubah” apapun pada mereka. Hanya, kami perlu untuk meningkatkan sesuatu pada mereka, sesuatu yang belum mereka sadari bahwa mereka perlu meningkatkannya, DERAJAT KESEHATAN. Pelayanan masyarakat, pelayanan kesehatan yang tercakup dalam satu KEBERMANFAATAN luas untuk semua, seluas tangan kami mampu meraih, seberat pundak kami mampu memikul, seluas dada kami mampu memeluk.
Tunjukkan Baktimu, Mulai Aksimu
Langkah-langkah kecil kami, untuk mimpi besar tempat yang kami pijak saat ini, karena dalam bakti kami ingin beraksi.