Dokumentasi Perjalanan Pencerah Nusantara Batch 3: Tanggal 21 Oktober 2014
Adalah
Radi, seorang anak berusia 9 tahun dengan tinggi badan sekitar 120 cm dan berat
badan 20 Kg. Berjalan setiap hari menyusuri jalan-jalan terkecil menyisir
setiap sudut Kota Sikakap untuk menjajakan dagangannya tanpa menggunakan alas
kaki. Dengan modal keranjang di punggung yang berisikan sayuran-sayuran yang
dicari oleh ibunya di hutan. Radi kecil menggunakan topi sekolah dasarnya untuk
sekedar melindungi kepala dari teriknya panas matahari di siang hari. Dari
kejauhan tampak seperti orang dewasa yang menanggung beban kehidupan
keluarganya. Meski keringat menetes di kening nya, senyum nya masih menghiasi
wajah polosnya sesekali.
Hari
itu, agenda kami adalah menghandiri Posyandu di Seay lama, sebuah dusun di Desa
Sikakap. Untuk menjangkau Dusun Seay Lama, kami harus merogoh kocek Rp 4.000
untuk menggunakan transportasi laut, boat antar pulau. Setelah itu, perjalanan
dilanjutkan berjalan kaki dengan jalan yang menanjak sejauh 1 Km. Kala itu begitu panas, matahari
menyengat sepanjang siang. Membuat kami sesekali mampir di teras-teras rumah
milik penduduk untuk sekedar mengumpulkan sisa tenaga untuk menyusuri
perjalanan hari itu.
Kami
bertemu Radi kecil dalam perjalanan pulang seusai melaksanan Posyandu. Radi
Nampak sangat kecil, tapi guratan wajahhnya menggambarkan kedewasaan dan
tanggung jawab. Kami tertarik untuk menyapanya, seorang anak kecil dengan
keranjang sayur besar yang berjalan tanpa alas kaki. Awalnya, Radi tampak
tertutup dan malu menjawab semua pertanyaan kami. Bagaimana tidak, semua
berebut bertanya kepada Radi kecil tentang apa, siapa, dan mengapa ia berjualan
di siang itu. Baginya, berjualan adalah hal biasa ia lakukan sepulang sekolah.
Namun bagi kami, seorang anak kecil dengan keranjang sayur adalah hal yang sangat
baru buat kami. Mengundang perhatian dan rasa penasaran kami untuk mengetahui
lebih dalam mengenai kisah hidupnya.
Kami
mengajaknya singgah di sebuah warung untuk minum segelas air putih. Keringatnya
yang terus menetes membuat kami begitu iba memandangnya. Setelah sekitar
setengah jam kami menyita waktu kerjanya, banyak hal yang kami dapat pelajari
dari seorang anak yang harus jadi tulang punggung keluarganya. Pelajaran
tentang hidup keras yang memaksa seorang anak kecil yang polos menanggung beban
begitu besar bagi keluarganya.
Radi
kecil memiliki 4 orang adik yang masih sangat kecil-kecil, adik pertamanya
berusia 7 tahun, adik selanjutnya berusia 4 tahun, 2 tahun dan 8 bulan. Radi adalah
anak tertua sekaligus menjadi tulang punggung dikeluarganya. Radi dan Ibunya
berjuang keras untuk menghidupi adik-adiknya yang masih sangat kecil. Ayahnya
telah pergi meninggalkannya dan adik-adiknya sejak satu tahun yang lalu. Sejak
saat itu, sang ibu bekerja mencari sayur yang akan di jual Radi sepulang
sekolah. Setelah mengelilingi sikakap untuk menjajakan sayurannya, Radi kecil
kembali pulang kerumah. Terkadang Radi juga harus menginap di poskamling
ataupun teras-teras rumah karena ketinggalan Boat antar pulau yang hanya
beroperasi sampai dengan pukul 17.00. Radi kecil terbiasa menghabiskan waktunya
untuk sekolah dan berjualan. Masa kecil yang harusnya ia nikmati, bergaul
dengan teman sebayanya harus dia ganti dengan beban dan tanggung jawab yang
begitu besar.
Mendengar
kisah Radi, kami tertarik untuk benar-benar datang dan membuktikan apa yang
telah Radi kisahkan kepada kami. Beberapa hari setelah kami bertemu Radi, kami
memutuskan untuk datang kerumahnya. Ketika sampai disana, kami mendapati ketiga
adik Radi yang masih kecil ditinggal tanpa pengawasan orang tua di rumah petak
ukuran 3 x 2 meter. Adik yang paling kecil terus menangis kehausan, dan kedua
kakanya sibuk bermain bedak milik ibunya. Menyaksikan pemandangan tersebut kami
berpikir bahwa ternyata masih ada anak-anak terlantar yang tidak mendapatkan
kasih sayang orang tuanya. Bahkan tetangganya yang berdekatan pun enggan untuk
sekedar menengok adik-adik radi yang tinggal sendiri karena sang ibu harus
mencari sayur di hutan.
Kisah
Radi adalah satu dari ratusan bahkan ribuan kisah-kisah anak terlantar di
Indonesia. Ketiaksiapan menjadi orang tualah barangkali menjadi penyebab
terjadinya kasus-kasus penelantaran anak-anak di bawah umur. Tanpa sengaja
dengan alasan ekonomi, anak-anaklah yang akan menjadi korbannya. Dengan alasan
tidak sanggup lagi menafkahi, lantas pergi begitu saja meninggalkan tanggung
jawab yang begitu besar pada punggung-punggung kecil tak berdosa. Yang memaksa
buah hati menjadi tulang punggung, yang membuat anak-anak kecil tak berdosa dewasa
sebelum waktunya, yang karenanya punggung kekar itu dimiliki oleh si Kecil
Radi.
Penulis
; Zakiyyah Ahsanti R
No comments:
Post a Comment